Rabu, 09 Maret 2011
WISATA PEMANDIAN ALAM SEMBAHE
Sungai Sembahe Sibolangit adalah wisata tempat pemandian yang sering dikunjugi oleh para wisata lokal. Air sungai Sibolangit ini mengalir dengan deras karena di sekitar air terdapat batu-batu besar, dan dibatu ini anda bisa berfoto bareng dengan teman sambil menikmati dinginnya air sungai tersebut. Pada saat liburan sekolah (tanggal 17 Agustus-an, tempat ini sangat ramai dikunjugi. Selain airnya dingin, suasananya juga sangat nyaman dan udaranya masih asri, dingin serta bisa menikmati makanan hangat yang tersedia dijual di tempat itu.
Dengan biaya masuk Rp 8.000, setiap pengunjung bisa menikmati lokasi wisata ini dan merasakan dinginnya air pegunungan. Anda penasaran dengan air pengunungan ini, silakan berkunjung. Lokasi tempatnya di Tanah Karo, yang bisa kita mulai perjalanan dari Medan. Dengan Transportasi umum yang tersedia di simpang kuala Medan yaitu Sumatera Utara (Sutra), Borneo, Sinabung dan lain-lain. Atau dengan kendaraan sendiri yang bisa ditempuh dengan waktu lebih kurang 1 jam dari Medan.
Rabu, 02 Maret 2011
PENANGKARAN BUAYA MEDAN
Areal penangkaran ini seluas satu hektar lebih, oleh pemiliknya di dalam areal ini telah dibangun 78 bak penangkaran buaya dan setengah hektar tanah dibuat semacam danau tempat leluasa hidup di air dan naik ke darat yang belakang danau telah dipagari tembok panjang dengan tinggi sekitar 3 meter sebagai pembatas dengan areal perkampungan penduduk yang berada di sekitarnya. Agar terlihat oleh pengunjung danau ini diberi pagar besi jaring-jaring pengaman. Menurut pengakuan para turis yang telah datang berkunjung, ini adalah penangkaran buaya terbesar di dunia yang dikelola secara tradisionil, untuk menikmatinya biaya masuk hanya Rp 5000 bagi orang dewasa dan Rp 3000 bagi anak-anak. Populasi yang besar membuat pemilik menjadi prihatin di dalam menyediakan pakan bagi buaya-buaya ini yang membutuhkan satu ton daging segar setiap hari sementara sumber pembiayaan hanya mengandalkan harga tiket masuk dari para pengunjung termasuk biaya pawang, pemeliharaan dan perawatan.
Sebagai obyek wisata yang telah diakui oleh Pemko Medan, penangkaran ini nampak sangat bersahaja, karena tidak banyak dijumpai fasilitas - fasilitas menarik lain yang mendukung tempat ini sebagai objek wisata.
namun, tempat ini sangat cocok untuk dikunjungi sebagai sarana edukasi untuk keluarga yang berguna untuk menambah pengetahuan tentang satwa liar,khususnya buaya.
PAJAK BUAH BERASTAGI
Berkunjung ke Brastagi tidak lengkap rasanya tanpa mengunjungi pasar buah yang terletak di daerah tugu perjuangan. Pasar ini menjual berbagai macam aneka buah-buahan khas kota Brastagi. Tidak hanya buah-buahan disini juga menjual bunga dan beberapa barang lainnya seperti halnya pasar pada umumnya
Buah yang banyak ditemui disini diantaranya adalah terong belanda, markisa, pepino dan jika sedang beruntung kita akan menemui buah yang jarang sekali ada karena buah ini sudah sedikit langka yaitu buah biwa. Biwa ini seperti anggur tapi berwarna kekuningan dan harganyapun sangat mahal.
Pasar atau mereka biasa menyebutnya pajak ini sekarang sedang sepi dari pengunjung yang ingin membeli oleh-oleh. Sejak meletusnya Gunung Sinabung akhir Agustus lalu pengunjung yang datang berkurang drastis. Seperti yang dipaparkan oleh salah seorang penjual buah disana.
Pasar Buah Brastagi ini sangat bersih dan rapi. Jika ingin membeli oleh-oleh khas dari Brastagi tidak ada salahnya untuk mengunjungi pasar ini atau hanya sekedar jalan-jalan sore menikmati udara sejuk di kota ini.
Walaupun tradisional, pajak (pasar) buah dan bunga di Brastagi cukup rapih, bersih, dan teratur. Hal ini pula yang membuat pasar tersebut mempunyai daya tarik tersendiri, untuk dikunjungi.
Minggu, 27 Februari 2011
KEBUN BINATANG SIANTAR
Jika Anda ingin berwisata melihat keanekaragaman hewan, mungkin kebun binatang pematang siantar dapat Anda jadikan pilihan. Kebun binatang yang terletak di Sumatera Utara ini terakhir berubah nama menjadi Taman Hewan Pematang Siantar atau yang disingkat THPS. Hal ini tentu saja menyesuaikan dengan budaya timur kita agar terdengar lebih halus dan menghilangkan kesan kata ”binatang” yang kedengarannya kasar.
Taman Hewan Pematang Siantar atau kebun binatang pematang siantar memiliki luas sekitar 4,5 hektar. Kebun binatang ini terletak tepat di pusat kota Pematang Siantar. THPS merupakan kebun binatang tertua ke empat yang terdapat di Indonesia, setelah kebun binatang Surabaya, Bukit Tinggi, dan kebun binatang yang terdapat di Bandung. Menurut sejarahnya, kebun binatang ini didirikan oleh Dr. Coonrad.
Ketika awal berdiri, kebun binatang pematang siantar ini hanya memiliki beberapa koleksi hewan saja. Untuk sistem manajemennya juga sangat sederhana dan belum memenuhi syarat. Namun sejak bulan September 1996 kebun binatang pematang siantar diambil alih dan dikelola secara professional, hingga pada akhirnya kebun binatang yang berubah nama menjadi Taman Hewan Pematang Siantar ini mendapat predikat kebun binatang terbaik yang ada di Indonesia. Hal ini dilihat dari beragam jenis koleksi satwanya. Selain itu, kebun binatang ini juga memiliki fasilitas dan infrastruktur yang lengkap.
Taman Hewan Pematang Siantar ini merupakan kebun binatang terlengkap di provinsi Sumatera Utara. Di sini pengunjung tidak hanya bisa menambah pengetahuan tentang berbagai macam hewan, tapi juga bisa bersantai dan bermain bersama keluarga. Karena di Taman Hewan Pematang Siantar ini terdapat berbagai sarana bermain bagi anak-anak, salah satunya adalah flying fox.
Selain itu, bagi Anda yang suka berenang, di sini juga tersedia kolam renang. Oleh karena itu, kebun binatang pematang siantar sangat cocok menjadi tepat tujuan Anda untuk berlibur.
PESONA DANAU LAU KAWAR
Danau Lau Kawar, berada di Desa Kutagugung Kecamatan Naman Teran (dulu Kecamatan Simpang Empat-red) di bawah kaki gunung berapi Sinabung kini mulai berbenah agar bisa menjadi DTW Primadona Kabupaten/Kota di Sumut. Sarana infrastruktur, jalan propinsi jurusan Kabanjahe-Kutarayat menuju danau ini tahap demi tahap mulai dibenahi dan ditingkatkan.
Termasuk peningkatan jalan dari simpang Kutarayat menuju danau ini juga turut dibenahi melalui dana APBD Karo. Juga peningkatan jalan lingkar mengelilingi taman danau ini dan pembangunan bronjong di pinggir danau. Pembangunan ini, diharapkan membawa angin segar bagi peningkatan wisatawan ke daerah tujuan wisata (DTW) Danau Lau Kawar dan ke DTW lainnya di Kabupaten Karo.
Obyek wisata danau di dataran tinggi Karo di kawasan Gunung Bukit Barisan itu masuk wilayah Kecamatan Naman Teran. Perjalanan menuju Tanah Karo yang banyak menyimpan potensi wisata itu cukup menyenangkan dengan pepohonan di kiri-kanan badan jalan. Atau, jurang ditumbuhi rerimbunan pohon.
Pastinya, hijau rerimbunan pepohonan dari hutan tropis itu tak pernah membosankan saat dipandang dan terlihat oleh mata kita dari balik jendela mobil, atau kaca depan penutup kepala (helm) jika mengendarai sepedamotor.
Udara segar dari hawa sejuk, terlebih ketika kabut tipis menyelimuti kawasan yang dilalui itu, semakin menambah kenyamanan serta ketenangan suasana perjalanan. Apalagi di hari biasa (bukan libur) tidak begitu ramai kendaraan lalu-lalang.
Perjalanan dari Ibukota Provinsi Sumatera Utara, Kota Medan, melintasi wilayah Kabupaten Deliserdang selama kurang lebih dua jam menjadi tidak terasa, apalagi sempat mampir di perbatasan Deliserdang – Tanah Karo, di Penatapan menikmati jagung rebus atau jagung bakarnya.
Termasuk peningkatan jalan dari simpang Kutarayat menuju danau ini juga turut dibenahi melalui dana APBD Karo. Juga peningkatan jalan lingkar mengelilingi taman danau ini dan pembangunan bronjong di pinggir danau. Pembangunan ini, diharapkan membawa angin segar bagi peningkatan wisatawan ke daerah tujuan wisata (DTW) Danau Lau Kawar dan ke DTW lainnya di Kabupaten Karo.
Obyek wisata danau di dataran tinggi Karo di kawasan Gunung Bukit Barisan itu masuk wilayah Kecamatan Naman Teran. Perjalanan menuju Tanah Karo yang banyak menyimpan potensi wisata itu cukup menyenangkan dengan pepohonan di kiri-kanan badan jalan. Atau, jurang ditumbuhi rerimbunan pohon.
Pastinya, hijau rerimbunan pepohonan dari hutan tropis itu tak pernah membosankan saat dipandang dan terlihat oleh mata kita dari balik jendela mobil, atau kaca depan penutup kepala (helm) jika mengendarai sepedamotor.
Udara segar dari hawa sejuk, terlebih ketika kabut tipis menyelimuti kawasan yang dilalui itu, semakin menambah kenyamanan serta ketenangan suasana perjalanan. Apalagi di hari biasa (bukan libur) tidak begitu ramai kendaraan lalu-lalang.
Perjalanan dari Ibukota Provinsi Sumatera Utara, Kota Medan, melintasi wilayah Kabupaten Deliserdang selama kurang lebih dua jam menjadi tidak terasa, apalagi sempat mampir di perbatasan Deliserdang – Tanah Karo, di Penatapan menikmati jagung rebus atau jagung bakarnya.
Kamis, 24 Februari 2011
WISATA BUDAYA DI DESA LINGGA
Mengenal sejenak Rumah Adat
Karo Suku Karo mendiami daerah bagian utara Propinsi Sumatera Utara, terutama di daerah tinggi Karo, Langkat Hulu, Deli Hulu, Serdang Hulu, dan sebagian Dairi. Sebagian besar orang Karo masih hidup di desa-desa yang disebut kuta. Kuta merupakan kesatuan territorial yang dihuni oleh penduduk dari beberapa merga (klen) yang berbeda. Dalam kuta terdapat dua atau lebih deretan rumah adat. Namun, sekarang tidak semua kuta memiliki rumah adat. Di beberapa tempat kita masih dapat menemukan rumah adat Karo yang sudah berusia ratusan tahun diantaranya di desa Lingga, Dokan dan Peceren. Rumah Adat Karo terkenal karena keunikan teknik bangunan dan nilai sosial-budayanya. Rumah adat Karo memiliki konstruksi yang tidak memerlukan penyambungan. Semua komponen bangunan seperti tiang, balik, kolom, pemikul lantai, konsol, dan lain-lain tetap utuh seperti aslinya tanpa dilakukan penyerutan ataupun pengolahan. Pertemuan antarkomponen dilakukan dengan tembusan kemudian dipantek dengan pasak atau diikat menyilang dengan ijuk untuk menjauhkan rayapan ular. Bagian bawah, yaitu kaki rumah, bertopang pada satu landasan batu kali yang ditanam dengan kedalaman setengah meter, dialasi beberapa lembar sirih dan benda sejenis besi. Rumah adat Karo berbentuk panggung dengan dinding miring dan beratap ijuk. Letaknya memanjang 10-20 meter dari timur ke barat dengan pintu di kedua jurusan mata angin itu. Posisi bangunan Rumah Adat Karo biasanya mengikuti aliran sungai yang ada di sekitar desa. Pada serambi muka terdapat semacam teras dari bambu yang disusun yang disebut ture.
Sebelum membangun rumah, orang Karo mengadakan musyawarah dengan teman satu rumah mengenai besar, tempat, dan hal-hal lain. Waktu membersihkan dan meratakan tanah ditentukan oleh guru (dukun) untuk mendapatkan hari yang baik. Ketika akan mengambil kayu ke hutan mereka kembali menanyakan hari yang baik untuk menebang pohon kepada guru. Sebelum menebang kayu guru akan memberi persembahan kepada penjaga hutan agar jangan murka terhadap mereka karena kayu itu dipakai untuk membangun rumah. Dalam proses pembangunan mulai dari peletakan alas rumah selalu ada ritual yang dibuat agar pembangunan rumah tersebut diberkati oleh yang maha kuasa dan agar tidak tejadi hal-hal yang buruk. Setelah rumah selesai dibangun masih ada ritual yang diadakan. Guru dan beberapa sanak keluarga yang membangun rumah akan tidur di rumah baru itu sebelum rumah itu ditempati. Mereka akan memimpikan apakah rumah tersebut baik untuk dihuni atau tidak. Waktu memasuki rumah baru biasanya diadakan kerja mengket rumah mbaru (pesta memasuki rumah baru). Pesta ini menunjukkan rasa syukur atas rumah baru tersebut kepada saudara-saudara dan kepada yang maha kuasa. Dalam pesta ini ada acara makan bersama dengan para kerabat, kenalan, dan orang-orang sekampung. Lalu, acara dilanjutkan dengan acara ngerana (memberi kata sambutan dan petuah-petuah) oleh pihak-pihak yang berkompeten seperti: Kalimbubu, Anak beru, dan Senina. Dalam pesta ini juga biasanya ada acara tepung tawar untuk rumah baru. Guru akan menepungtawari bagian-bagian tertentu dari rumah. Tujuannya ialah agar segala yang jahat keluar dari rumah dan yang baik tinggal dalam rumah untuk membuat para penghuni rumah bisa bahagia menempati rumah tersebut. Acara lain yang kadang dibuat adalah gendang. Gendang ini bertujuan untuk mengusir hal-hal jahat yang masih tinggal di dalam rumah tersebut. gendang tersebut juga menunjukkan rasa gembira dan syukur bersama warga sedesa.
Nilai Kepercayaan dalam Bentuk Bangunan Rumah Adat Karo
Struktur bangunan rumah adat Karo terbagi atas tiga bagian, yaitu atap sebagai dunia atas, badan rumah sebagai dunia tengah, dan kaki sebagai dunia bawah, yang dalam bahasa Karo disebut Dibata Atas, Dibata Tengah, dan Dibata Teruh (Allah Atas, Allah Tengah, dan Allah Bawah). Pembagian anatomi rumah adat Karo menggambarkan: dunia atas tempat yang disucikan, dunia tengah tempat keduniawian, dan dunia bawah tempat kejahatan sehingga layak untuk tempat binatang piaraan, yang dalam kepercayaan suku Karo dikuasai oleh Tuhan Banua Koling. Penguasa yang jahat dipuja dan dihormati agar tidak mengganggu kehidupan manusia. Dalam pembangunan rumah adat, hal yang terpenting adalah prosesnya yang sakral dibandingkan segi fisiknya. Hal ini tampak mulai dari penentuan tapak/lahan, pemilihan kayu di hutan, hari baik untuk pendirian rumah, pemasangan atap sampai memasuki rumah. Kesemuanya dilakukan melalui upacara-upacara ritual dengan kerbau sebagai korban. Upacara-upacara ini menunjukkan kepercayaan yang besar orang Karo akan kekuasaan yang melebihi kekuatan manusia.
Karo Suku Karo mendiami daerah bagian utara Propinsi Sumatera Utara, terutama di daerah tinggi Karo, Langkat Hulu, Deli Hulu, Serdang Hulu, dan sebagian Dairi. Sebagian besar orang Karo masih hidup di desa-desa yang disebut kuta. Kuta merupakan kesatuan territorial yang dihuni oleh penduduk dari beberapa merga (klen) yang berbeda. Dalam kuta terdapat dua atau lebih deretan rumah adat. Namun, sekarang tidak semua kuta memiliki rumah adat. Di beberapa tempat kita masih dapat menemukan rumah adat Karo yang sudah berusia ratusan tahun diantaranya di desa Lingga, Dokan dan Peceren. Rumah Adat Karo terkenal karena keunikan teknik bangunan dan nilai sosial-budayanya. Rumah adat Karo memiliki konstruksi yang tidak memerlukan penyambungan. Semua komponen bangunan seperti tiang, balik, kolom, pemikul lantai, konsol, dan lain-lain tetap utuh seperti aslinya tanpa dilakukan penyerutan ataupun pengolahan. Pertemuan antarkomponen dilakukan dengan tembusan kemudian dipantek dengan pasak atau diikat menyilang dengan ijuk untuk menjauhkan rayapan ular. Bagian bawah, yaitu kaki rumah, bertopang pada satu landasan batu kali yang ditanam dengan kedalaman setengah meter, dialasi beberapa lembar sirih dan benda sejenis besi. Rumah adat Karo berbentuk panggung dengan dinding miring dan beratap ijuk. Letaknya memanjang 10-20 meter dari timur ke barat dengan pintu di kedua jurusan mata angin itu. Posisi bangunan Rumah Adat Karo biasanya mengikuti aliran sungai yang ada di sekitar desa. Pada serambi muka terdapat semacam teras dari bambu yang disusun yang disebut ture.
Sebelum membangun rumah, orang Karo mengadakan musyawarah dengan teman satu rumah mengenai besar, tempat, dan hal-hal lain. Waktu membersihkan dan meratakan tanah ditentukan oleh guru (dukun) untuk mendapatkan hari yang baik. Ketika akan mengambil kayu ke hutan mereka kembali menanyakan hari yang baik untuk menebang pohon kepada guru. Sebelum menebang kayu guru akan memberi persembahan kepada penjaga hutan agar jangan murka terhadap mereka karena kayu itu dipakai untuk membangun rumah. Dalam proses pembangunan mulai dari peletakan alas rumah selalu ada ritual yang dibuat agar pembangunan rumah tersebut diberkati oleh yang maha kuasa dan agar tidak tejadi hal-hal yang buruk. Setelah rumah selesai dibangun masih ada ritual yang diadakan. Guru dan beberapa sanak keluarga yang membangun rumah akan tidur di rumah baru itu sebelum rumah itu ditempati. Mereka akan memimpikan apakah rumah tersebut baik untuk dihuni atau tidak. Waktu memasuki rumah baru biasanya diadakan kerja mengket rumah mbaru (pesta memasuki rumah baru). Pesta ini menunjukkan rasa syukur atas rumah baru tersebut kepada saudara-saudara dan kepada yang maha kuasa. Dalam pesta ini ada acara makan bersama dengan para kerabat, kenalan, dan orang-orang sekampung. Lalu, acara dilanjutkan dengan acara ngerana (memberi kata sambutan dan petuah-petuah) oleh pihak-pihak yang berkompeten seperti: Kalimbubu, Anak beru, dan Senina. Dalam pesta ini juga biasanya ada acara tepung tawar untuk rumah baru. Guru akan menepungtawari bagian-bagian tertentu dari rumah. Tujuannya ialah agar segala yang jahat keluar dari rumah dan yang baik tinggal dalam rumah untuk membuat para penghuni rumah bisa bahagia menempati rumah tersebut. Acara lain yang kadang dibuat adalah gendang. Gendang ini bertujuan untuk mengusir hal-hal jahat yang masih tinggal di dalam rumah tersebut. gendang tersebut juga menunjukkan rasa gembira dan syukur bersama warga sedesa.
Nilai Kepercayaan dalam Bentuk Bangunan Rumah Adat Karo
Struktur bangunan rumah adat Karo terbagi atas tiga bagian, yaitu atap sebagai dunia atas, badan rumah sebagai dunia tengah, dan kaki sebagai dunia bawah, yang dalam bahasa Karo disebut Dibata Atas, Dibata Tengah, dan Dibata Teruh (Allah Atas, Allah Tengah, dan Allah Bawah). Pembagian anatomi rumah adat Karo menggambarkan: dunia atas tempat yang disucikan, dunia tengah tempat keduniawian, dan dunia bawah tempat kejahatan sehingga layak untuk tempat binatang piaraan, yang dalam kepercayaan suku Karo dikuasai oleh Tuhan Banua Koling. Penguasa yang jahat dipuja dan dihormati agar tidak mengganggu kehidupan manusia. Dalam pembangunan rumah adat, hal yang terpenting adalah prosesnya yang sakral dibandingkan segi fisiknya. Hal ini tampak mulai dari penentuan tapak/lahan, pemilihan kayu di hutan, hari baik untuk pendirian rumah, pemasangan atap sampai memasuki rumah. Kesemuanya dilakukan melalui upacara-upacara ritual dengan kerbau sebagai korban. Upacara-upacara ini menunjukkan kepercayaan yang besar orang Karo akan kekuasaan yang melebihi kekuatan manusia.
HOT SPRING - LAU DEBUK DEBUK
Lau debuk-debuk (Hot Spring), atau sering disebut pemandian air panas merupakan salah satu potensi wisata yang sangat menarik disekitar kaki gunung sibayak. Pemandian air panas merupakan hasil aktifitas alam gunung sibayak dimasa lampu. Mata airnya bersumber dari perut bumi mengandung unsur belerang, dan dapat mengobati penyakit gatal-gatal dan dapat dijadikan sebagai pengganti mandi sauna. Objek wisata ini terletak di desa Semangat gunung, dahulu, hanya beberapa meter dari jalan setapak menuju pintu rimba.
Mata air panas muncul melalui retakan dari aliran lava di daerah selatan lereng gunung api Sibayak. Mata air panas ini kemudian ditampung didalam kolam. Pemandian air panas ini dikelolah oleh Pemerintah kabupaten (Pemkab) Karo) dengan masyarakat setempat. Sebagian pendaki memanfaatkan kolam air panas ini untuk berendam membersihkan diri dan menyegarkan tubuh sekembali dari puncak. Jarak dari kota berastagi ke objek wisata kira-kira berjarak 10 km dapat ditempuh dengan bus umum atau pribadi.
Mata air panas muncul melalui retakan dari aliran lava di daerah selatan lereng gunung api Sibayak. Mata air panas ini kemudian ditampung didalam kolam. Pemandian air panas ini dikelolah oleh Pemerintah kabupaten (Pemkab) Karo) dengan masyarakat setempat. Sebagian pendaki memanfaatkan kolam air panas ini untuk berendam membersihkan diri dan menyegarkan tubuh sekembali dari puncak. Jarak dari kota berastagi ke objek wisata kira-kira berjarak 10 km dapat ditempuh dengan bus umum atau pribadi.
Langganan:
Postingan (Atom)




